SEJARAH TOMBAK KYAI UPAS DI KABUPATEN TULUNGAGUNG

Moch. Zahrul Rismana, Dita - Hendriani

Abstract


Penelitian ini membahas tentang salah satu kegiatan kebudayaan turun temurun di Kabupaten Tulungagung, yang dikenal dengan Tradisi Jamasan Tombak Kyai Upas pada bulan Suro. Pada dasarnya setiap upacara adat ada makna yang terkandung didalamnya. Makna tersebut dapat mempenaruhi dan menjadikan tradisi ini dapat terus hidup di dalam masyarakat. Dalam penelitian ini penulis ingin mendeskripsikan mengenai bagaimana prosesi Jamasan Tombak Kyai Upas, apa makna apa saja yang terkandung dalam prosesi Jamasan Tombak Kyai Upas ini, apa makna sarana mulya pada Jamasan Tombak Kyai Upas. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat deskriptif dengan pendekatan sejarah budaya. Subjek dalam penelitian ini adalah Juru Kunci Tombak Kyai Upas. Adapun pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif dengan tehnik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini: (1) prosesi jamasan Tombak Kyai Upas yang dilaksanakan pada bulan Suro tanggal 10 dan diambil hari jumat ini diawali dengan pembuka nya arak-arakan yang terdiri dari reog kendang, prajurit, dayang, pembawa banyu sanga, penyerahan banyu sanga yang dilanjutkan pengambilan Pusaka Kyai Upas didalam Kanjengan dengan di iringi bacaan yasin dan tahlil. Pembacaan yasin tahlil tidak terputus hingga jamasan tombak Kyai Upas selesai. (2) makna dari prosesi jamasan Tombak Kyai Upas ini ialah bisa mendapatkan keberkahan dan ketentraman hati bagi yang melaksanakan jamasan dan masyarakat yang datang dalam jamasan tersebut Air bekas jamasan dipercaya sebagai perantara dari Allah SWT dapat menyembuhkan orang yang sakit dan bila membasuhkan ke muka dipercayai menjadikan wajah awet muda. (3) makna dalam prosesi sarana mulya adalah sebagai syarat wajib yang harus ada apabila jamasan dilaksanakan. Sarana mulya terdiri dari banyu nawa tirta atau banyu sanga yang diambil dari 9 sumber mata air, ayam sapta yang berarti ayam 7 jenis diingkung, dan selanjutnya adalah sesajen dan umburappe untuk penghormatan kepada leluhur. (4) tujuan dari prosesi Jamasan Tombak Kyai Upas ini diperuntukan untuk keselamat dan kesejaheraan.


Keywords


Jamasan Tombak Kyai Upas, Sejarah Tulungagung

Full Text:

PDF

References


Al Akhyar, Agus Ali Imron. 2020. Mengunjungi Simbol-Simbol Sejarah Lokal Tulungagung,(Yogyakarta:Mirra Buana Media)

Alek, Sobur. 2001. Analisis Teks: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotika, Dan Analisis Framing. Bandung: Remaja.

Asy’arie, Musa. 1988. Agama, Kebudayaan Dan Pembangunan (Yogyakarta: IAIN Sunan Kalijaga Press)

Arikunto, Suharisimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. (Jakarta: PT Rineka Cipta)

Koentjaraningrat. (1992). Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum.

Koentjaraningrat. 1980. Sejarah teori Antropologi, Jilid I, dan III. Jakarta: UI Press.

Zoest, Art Van.1993 “Semiotika.: Tentang.Tanda-Tanda Cara.Kerjanya Dan Apa Yang Kita Lakukan Dengannya”, Penerjemah, Ani Soekawanti (Jakarta : Yayasan Sumber Agung.




DOI: https://doi.org/10.33373/hstr.v7i2.4898

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2023 HISTORIA: Journal of Historical Education Study Program

P-ISSN 2301-8305        E-ISSN 2599-0063

Published by: Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Riau Kepulauan, Batam, Indonesia.

Jl. Batu Aji Baru No. 99 Batam Propinsi Kepulauan Riau, Batam,  Indonesia.

Email; historiaunrika@gmail.com

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.