Dinamika Perfilman Nasional Indonesia pada Masa Orde Baru Tahun 1970–1990

Akhmad Syaekhu Rahman, Ahmad Bakhtiar, Yoga Pangestu

Abstract


Perfilman indonesia mengalami masa kejayaannya ketika memasuki masa pemerintahan Orde Baru. Ditengah perkembangan itu, kondisi industri harus berjuang menghadapi dominasi film asing, perkembangan televisi, pembajakan dan krisis moneter. Pada era ini juga film-film eksploitasi yang bertema seks, kekerasan dan drama remaja percintaan mendapatkan tempat di hati masyarakat menengah kebawah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah melalui tahapan : Heuristik, kritik, verifikasi, interpretasi dan historiografi.hasil penelitian ini memberikan sebuah informasi tentang perfilman indonesia di tahun 1970-1980, tidak dapat dilepaskan dari keadaan sosial, politik dan kultural masyarakat yang sedang berubah. Dibukanya keran-keran investasi perkembangan industri, pembangunan yang luar biasa, merupakan wujud modernisasi yang kemudian mempunyai dampak yang besar bagi masyarakat.

Keywords


Perkembangan, Film, Orde Baru

Full Text:

PDF

References


Abdurrahman, D. (1999). Metedologi Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Amura, H. (1989). Sejarah Perfilman Indonesia Dalam Orde Baru. Jakarta: Lembaga Komunikasi Massa Islam Indonesia.

Ankersmith, F,R. 91987). Refleksi Tentang Sejarah: Pendapat-Pendapat Modern Tentang Filsafat Sejarah. Jakarta: PT Pustaka Gramedia Utama.

Ardan, SM. (1992). Dari Gambar Idoep ke Sinepleks. Jakarta: Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia.

Armand, D. (1988). Sejarah Orde Baru. Jakarta: Pustaka Kartini.

Aziz, A. (2019). Dari Balik Layar Perak: Film Di Hindia Belanda 1926-1942. Depok: Komunitas Bambu

______, (2004). Setengah Abad Festival Film Indonesia. Jakarta: Gedung Film.

Badan Pusat Statistik. (1978). Djakarta Dalam Angka 1970-1977. Jakarta: Badan Pusat Statistik Indonesia.

Biran, M,Y. (2009). Sejarah Film Indonesia 1900-1950: Bikin Film Di Jawa. Depok: Komunitas Bambu.

_________.(2008). Kenang-Kenangan Orang Bandel. Depok: Komunitas Bambu.

_________. (2009). Peran Pemuda Dalam Kebangkitan Film Nasional.Kementrian Negara Pemuda dan Olahraga Indonesia: Jakarta.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (2008). Kamus Besar Bahas Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Edi, S dkk. (1987). Sejarah Kota Jakarta 1950-1980. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Indonesia.

Effendy, H. (2008). Industri Perfilman Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Irawanto, B. (2004). Menguak Peta Perfilman Indonesia. Jakarta: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Imanjaya, E. (2006). A to Z About Film Indonesia. Bandung: Mizan.

Jauhari, H. (1992). Layar Perak: 90 Tahun Bioskop Di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kanumoyoso, B. (2001). Nasionalisasi Perusahaan Belanda Di Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kartodirdjo, S. (1991). Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metedologi Sejarah. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Koentjtaraningrat. (1991). Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: Universitas Indonesia (UI Press).

_____________.(1983). Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia. Jakarta: Djambatan

_____________. (1984). Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

_____________.(2000). Pengantar Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kristanto, JB. (2005). Katalog Film Indonesia 1926-2005. Jakarta: Nalar.

__________. (2004). Nonton Film Nonton Indonesia. Jakarta: Kompas

Kuntowijoyo. (1995). Pengantar Ilmu Sejarah. Jakarta: Bentang.

__________.(2003). Metedologi Sejarah. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Kurnia, N. (2006). Lambannya Pertumbuhan Industri Perfilman. Jurnal Ilmu Sosial dan Politik, 7(3). 271-296. https://jurnal.ugm.ac.id/jsp/article/view/11026

Kompas, 1969 – 1980. Jakarta: Perpustakaan Nasional Indonesia Salemba.

Kompas, 1980 – 1990 . Jakarta: Perpustakaan Nasional Indonesia Salemba.

Lubis, F. (2018). Jakarta: 1950-1970. Depok: Komunitas Bambu.

Notosusanto. (1979). Pengantar Sejarah Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Nugroho, G. (1998). Kekuasaan Dan Hiburan. Yogyakarta: Bentang.

Nugroho, G dan Dyna, H.S. (2015). Krisis Dan Paradoks Film Indonesia. Jakarta: Kompas.

Poesponegoro, M.D. dan Notosusanto, N. (1992). Sejarah Nasional Indonesia V. Jakarta: Balai Pustaka.

___________________________.(1992). Sejarah Nasional Indonesia VI. Jakarta: Balai Pustaka.

Pratista, H. (2017). Memahami Film. Yogyakarta: Montase Press.

Ramadhan, KH. (1992). Ali Sadikin Membenahi Jakarta Menjadi Kota Yang Manusiawi. Jakarta: Ufuk Press.

Ricklefs, MC. (2008). Sejarah Indonesia Modern (1200-2008). Jakarta: Serambi.

Said, S. (1990). Pantulan Layar Putih (Film Indonesia Dalam Kritik Dan Komentar). Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Said, S. (1991). Profil Dunia Film Indonesia. Jakarta: Grafitii Press

Sen, K. (1994). Indonesian Cinema: Framing The New Orde. London: Zed Books

Sen, K dan T. Hill. Media, Budaya Dan Politik Indonesia. Jakarta: ISAI

Tjasmadi, HM, J. (2008). Seratus Tahun Bioskop Indonesia 1900-2000. Bandung: Megindo

Triantoro. (2013). Komunikasi Simena Film Kung Fu Shaolin: Antara Mitos dan Hiperealitas. Yogyakarta: Graha Cendikia.

Wirosardjono, S. (1977). Gita Jaya Catatan H. Ali Sadikin, Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta 1966-1977. Jakarta: Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

Wulung, A.C. dkk. (2016). Meraba Film Dari Dalam. Yogyakarta: Kelas Film dan Sinema Universitas Atma Jaya.




DOI: https://doi.org/10.33373/hjpsps.v1i1.9155

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 Historia: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah

P-ISSN 2301-8305        E-ISSN 2599-0063

Published by: Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas Riau Kepulauan, Batam, Indonesia.

Jl. Batu Aji Baru No. 99 Batam Propinsi Kepulauan Riau, Batam,  Indonesia.

Email; historiaunrika@gmail.com

Lisensi Creative Commons
Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4.0 Internasional.