Karakteristik Morfometrik, Pola Sebaran, Kepadatan dan Kondisi Lingkungan Siput Gongong Strombus canarium Di Perairan Kota Batam
Abstract
Ekologi Siput Gonggong (Strombus canarium Linnaeus, 1758) masih kurang dipahami dan faktor-faktor yang mempengaruhi preferensi habitat tetap biota ini sebagian besar tidak dapat dijelaskan. Biota ini sangat digemari masyarakat sebagai menu utama kuliner seafood sehinga menyebabkan tingginya penangkapan di alam. Penelitian ini bertujun untuk menganalisis aspek morfometrik, populasi (tingkat kepadatan dan pola sebaran), faktor-faktor lingkungan (kualitas air, substrat, habitat lamun) biota Siput Gonggong. Pengambilan sampel dilakukan di tiga lokasi (stasiun) yang menjadi pusat penangkapan Siput Gonggong yang ada di Pulau Jaloh, Teluk Kangkung dan Pulau Terong, Kota Batam. Pengambilan sampel dalam penelitian ini mengikuti metode transek garis yang ditempatkan secara acak pada 3 titik pengamatan di setiap stasiun. Luas daerah pengamatan pada masing-masing stasium seluas 60 m2. Terdapat perbedaan morfometrik Siput Gonggong Strombus canarium pada tiga lokasi, dimana morfometrik di Pulau Jaloh memiliki ukuran lebih tinggi dari lokasi lainnya pada semua indikator ukuran. Sedangkan di Teluk Kangkung merupakan yang paling kecil untuk semua indikator ukuran. Kepadatan siput Gonggong di Pulau Jaloh sebesar 3.58 ind/ 60m2, Teluk Kangkung 1.3 ind/60 m2, dan Pulau Terong sebesar 1.4 ind/60 m2 dengan pola sebaran pada semua lokasi mengelompok. Kualitas perairan di masing-masing lokasi pengamatan masih dalam rentang baku mutu kualitas air untuk biota. Dari ketiga lokasi penelitian ini yang dominan ditemukan jenis lamun Enhalus acoroides. Persentase tutupan lamun pada tiga lokasi yaitu Pulau Jaloh sebesar 6.5%, Teluk Kangkung sebesar 8,3%, dan Pulau Terong sebesar 14,98% masih dalam kategori rendah.References
Cob, Z. C., Arshad, A., Bujang, J. S., Bakar, Y., Simon, K. D., & Mazlan, A. G., 2012. Habitat preference and usage of Strombus canarium Linnaeus, 1758 Gastropoda : Strombidae) in Malaysian seagrass beds. Italian Journal of Zoology, 79(3), 459–467.
Cob, Z. C., Arshad, A., Idris, M. H., Bujang, J. S., & Ghaffar, M. A., 2008. Sexual Polymorphism in a Population of Strombus canarium Linnaeus, 1758 (Molusca: Gastropoda) at Merambong Shoal, Malaysia. Zoological Studies, 47(3), 318–325.
Daeng, B., 2018. Keterkaitan Jenis dan Kerapatan Lamun dengan Tesktur di Dusun Biringkassi Desa Sapanang Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto. Skripsi. Universitas Hasanuddin, Makassar.
Dody, S., 2007. Habitat dan sebaran spasial Siput Gonggong (Strombus turturella) di Teluk Klabat, Bangka Belitung. In Prosiding Seminar Nasional Moluska dalam Penelitian, Konservasi dan Ekonomi. Jakarta: Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, p. 100.
Dody, S., 2011. Pola Sebaran, Kondisi Habitat dan Pemanfaatan Siput Gonggong (Strombus turturella) Di Kepulauan Bangka Belitung. Oseanologi dan Limnologi di Indonesia, 37(2), 339–353.
Dwiyitno, Aji, N. & Indriati, N., 2018. Heavy metal residue in fish and environmental quality of Barito River , South Kalimantan Province. Jurnal Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Prikanan, 3(2), 147–155.
Effendi, H., 2003. Telaah kualitas air, Yogyakarta: Kanisius.
English, S., Wilkinson, C. & Baker, Y., 1997. Survey Manual for Tropical Marine Resources (2nd Edition). Australian Institute of Marine Scienc, p.378.
Feryatun, F., Hendrarto, B. & Widyorini, N., 2012. Kerapatan dan distribusi lamun seagrass berdasarkan zona kegiatan yang berbeda di perairan pulau pramuka, kepulauan seribu. Journal og Management of Aquatic Resources, 1–7.
Gosari, B.A.J. & Haris, A., 2012. Studi Kerapatan dan Penutupan Jenis Lamun Di Kepulauan Spermonde. Torani (Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan), 22(3), 156–162.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Air Laut, Menteri Negara Lingkungan Hidup, Jakarta.
Khodijah & Anggraini, S.F., 2015. Keberlanjutan Populasi Siput Gonggong (Strombus canarium). Jurnal Mitra Bahari, 9(1), 37–42.
Kiswara, W. & Hutomo, M., 1985. Habitat dan Sebaran Geografik Lamun. Oseana, X(1), 21–30.
Lanuru, M., 2011. Bottom Sediment Characteristics Affecting the Success of Seagrass (Enhalus acoroides) Transplantation in the Westcoast of South Sulawesi (Indonesia). International Conference on Chemical, Biological and Environmental Engineering, 20(2011), 97–102.
Nybakken, J.W., 1988. Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis. M. Eidman et al., eds., Jakarta: PT Gramedia.
Putra, I.P., 2014. Kajian Kerapatan Lamun Terhadap Kepadatan Siput Gonggong (Strombus Canarium) Di Perairan Pulau Penyengat Kepulauan Riau. Skripsi. UMRAH, Tanjung Pinang.
Supriadi, 2003. Produktivitas Lamun Enhalus acoroides (LINN.F) Royle dan Thalassia hemprichii (EHRENB.) Ascherson di Pulau Barang Lompo Makassar. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
Utami, D.K., 2012. Studi Bioekologi Habitat Siput Gonggong (Strombus turturella) Di Desa Bakit, Teluk Klabat, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
Wicaksono, S.G., Widianingsih & Hartati, S.T., 2012. Struktur vegetasi dan kerapatan jenis lamun di perairan kepulauan karimunjawa kabupaten jepara. Jiurnal Oof Marine Research, 1(2), 1–7.
Keywords

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Dengan mengirimkan manuskrip artikel, penulis setuju dengan kebijakan ini. Tidak diperlukan penandatanganan dokumen khusus.
1. Lisensi
Penggunaan artikel yang non-komersial akan diatur oleh lisensi Atribusi Creative Commons seperti yang saat ini ditampilkan pada Creative Commons Attribution 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
2. Jaminan Penulis
Penulis menjamin bahwa artikel tersebut asli, ditulis oleh penulis lain, belum diterbitkan sebelumnya, tidak mengandung pernyataan yang melanggar hukum, tidak melanggar hak orang lain, tunduk pada hak cipta yang dipegang secara eksklusif oleh penulis dan bebas dari setiap hak pihak ketiga, dan bahwa setiap izin tertulis yang diperlukan untuk mengutip dari sumber lain telah diperoleh oleh penulis.
3. Hak Pengguna
Jurnal Simbiosa adalah untuk menyebarluaskan artikel yang diterbitkan sebebas mungkin. Di bawah lisensi Creative Commons, Simbiosa mengizinkan pengguna untuk menyalin, mendistribusikan, menampilkan, dan melakukan pekerjaan hanya untuk tujuan non-komersial. Pengguna juga perlu mengaitkan penulis dan Jurnal Simbiosa dalam mendistribusikan karya di jurnal dan media publikasi lainnya.
4. Hak Penulis
Memegang semua hak mereka untuk karya yang diterbitkan, seperti (tetapi tidak terbatas pada) hak-hak berikut;
- Hak cipta dan hak kepemilikan lainnya yang berkaitan dengan artikel, seperti hak paten,
- Hak untuk menggunakan substansi artikel dalam karya masa depan sendiri, termasuk kuliah dan buku,
- Hak untuk mereproduksi artikel untuk keperluan sendiri,
- Hak untuk mengarsipkan diri sendiri artikel tersebut,
- Hak untuk mengadakan perjanjian kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif dari versi artikel yang diterbitkan (misalnya, mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan atas publikasi awal dalam jurnal Simbiosa ini.
5. Co-Authorship
Jika artikel tersebut disusun bersama oleh lebih dari satu penulis, setiap penulis yang menyerahkan naskah waran bahwa ia telah diberi wewenang oleh semua penulis bersama untuk menyetujui hak cipta dan pemberitahuan lisensi (perjanjian) ini atas nama mereka, dan setuju untuk memberi tahu rekan penulis dari ketentuan kebijakan ini. Jurnal Simbiosa tidak akan bertanggung jawab atas apa pun yang mungkin timbul karena perselisihan internal penulis. Jurnal Simbiosa hanya akan berkomunikasi dengan penulis yang sesuai.
6. Royalti
Menjadi jurnal yang dapat diakses secara terbuka dan menyebarkan artikel secara gratis di bawah masa lisensi Creative Commons yang disebutkan, penulis menyadari bahwa Jurnal Simbiosa tidak memberikan hak royalti kepada penulis atau biaya lainnya.
7. Lain-lain
Jurnal Simbiosa akan menerbitkan artikel (atau menerbitkannya) di jurnal jika proses editorial artikel berhasil diselesaikan. Editor Simbiosa dapat memodifikasi artikel dengan gaya tanda baca, ejaan, huruf besar, referensi, dan penggunaan yang dianggap tepat. Penulis mengakui bahwa artikel tersebut dapat dipublikasikan sehingga akan dapat diakses oleh publik dan akses tersebut akan gratis bagi pembaca seperti yang disebutkan dalam poin 3.