Identifikasi Terumbu Karang Genus Favites dengan Menggunakan Metode Reef Identification Knowhow Application-Reconstructed by 3D Imagery (RIKA-R3DI)
Abstract
Penggunaaan metode dalam penelitian terumbu karang hingga saat ini sangat banyak digunakan, tergantung tujuan dari seorang peneliti. Metode Reef Identification Knowhow Application-Reconstructed by 3D Imagery (RIKA-R3DI) merupakan hasil pengembangan serta modifikasi dari metode Underwater Photo Transect (UPT). Cara kerja metode ini mengidentifikasi jenis karang dengan menggunakan gambar 3 dimensi (3D), sebelumnya sampel yang merupakan video jenis karang diperoleh dilapangan dengan peralatan selam dan video bawah air. Kemudian video sampel diolah menjadi gambar 3D serta diidentifikasi didarat. Sebelumnya metoda ini digunakan pada karang Genus Acropora dan Favia. Namun saat ini peneliti menggunakan metode RIKA-R3DI dalam mengidentifikasi karang Genus Favites, dengan tujuan apakah metode ini dapat digunakan dalam mengidentifikasi karang Genus Favites. Sampel diambil pada perairan pulau Mapur Provinsi Kepulauan Riau. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa metode ini sangat efektif dan berhasil dalam mengidentifikasi karang Genus Favites sampai ke spesies. Hasil uji dan identifikasi sampel, yang telah dijadikan gambar 3D menghasilkan karang Favites abdita.References
Agisoft Photoscan LLC, 2014. Agisoft Photoscan User Manual. Rusia.
Fastawa., Fuad, Z., Hidayati, F., 2016. Komposisi Jenis dan Kepadatan Populasi Porifera di Kawasan Konservasi Sublitoral Rinon Pulo Breuh Kecamatan Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar. Prosiding Seminar Nasional Biotik. 34-36.
Giyanto., Abrar, M., Hadi, T.A., Budiyanto, A., Hafizt, M., Salatalohy, A., Iswari, M.Y. 2017. Status Terumbu Karang Indonesia 2017. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jakarta, Indonesia. 3.
Giyanto., Manuputty, A.E.W., Abrar, M., Siringoringo, R.M., Suharti, S.R., Wibowo, K., Arbi, I.N.E.U.Y., Cappenberg, H.A.W., Sihaloho, H.F., 2014. Panduan Monitoring Kesehatan Terumbu Karang. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Jakarta, Indonesia. Hal 9.
Hermanto, B., 2013. Keanekaragaman Karang Jamur (Fungiidae) di Perairan Pulau Siladen, Minahasa Utara. Jurnal Ilmiah Platax, 1(4): 158-166.
Hill, J., Wilkinson, C., 2004. Methods for Ecological Monitoring of Coral Reefs. Australian Institute of Marine Science, Townsvile. Version 1. 36p.
Ilyas, I.S., Astuty, S., Harahap, S.A., Purba, N.P., 2017. Keanekaragaman Ikan Karang Target Kaitannya dengan Keanekaragaman Bentuk Pertumbuhan Karang pada Zona Inti di Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 8(2): 103-111.
Kelley, R., 2010. Coral Finder, Byo Guides, Autralia, 29p
Kohler, K.E., Gill, S.M. 2006. Coral Point Count with Excel extensions (CPCe): A Visual Basic program for the determination of coral and substrate coverage using random point count methodology. National Coral Reef Institute. Nova Southeastern University Oceanographyc Centre. Dania Beach. USA. 32(1): 1259-1269.
Kurniawan, R., Yulianda, F., Susanto, H. A., 2016. Marine Tourism Sustainability Development in Marine Recreational Park Anambas Island. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 8(1): 367-383.
Kurniawan, R., Ariestasari, A., Silalahi, R. S., Karlin,I., Febrianto,T., Kurniawan, D., Amrifo, V., Abrar, M, Syakti, A.D., 2019. Identification Acroporidae and Favidae by a newly approach called Reef Identification Knowhow Application-Reconstructed by 3D Imagery (RIKA-R3DI) Method. MethodsX, 6:1084-1100.
Lasabuda, R., 2013. Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Perspektif Negara Kepualauan Republik Indonesia. Jurnal Ilmiah Platax, 1(2): 92-101.
Lauretta, B., Reytar K., Spalding, M., Perry, A., 2012. Menengok Kembali Terumbu Karang yang Terancam di Segitiga Terumbu Karang. World Resources Institute. Hal 90.
Manuputty, A. E. W., Djuwariah, 2009. Point Intercept Transect (PIT) untuk Masyarakat. Studi Baseline dan Monitoring Kesehatan Karang di Lokasi Daerah Perlindungan Laut. Coremap II-LIPI, Jakarta. Hal 6
Mustamu, G., Lumingas, L.J., Lohoo, A.V., 2014. Kepadatan, Pola Sebaran, dan Morfometrik Kerak Kotak Septifer bilocularis (Linnaeus, 1758) pada Rataan Terumbu di Tanjung Lampangi, Minahasa Selatan. Jurnal Ilmiah Platax, 2(1): 8-18.
Prasetia, I.N.D., Wisnawa, I.G.D., 2015. Struktur Komunitas Terumbu Karang di Pesisir Kecamatan Buleleng Singaraja. Jurnal Sains dan Teknologi, 4(2): 579-590.
Restu, I.W., 2011. Kondisi Komunitas Terumbu Karang di Pantai Bias Putih Desa Bugbug Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangaem Bali. Jurnal Bumi Lestari, 11(1): 58-65.
Rudi, E., 2005. Kondisi Terumbu Karang di Perairan Sabang Nanggro Aceh Darussalam setelah Tsunami. Jurnal Ilmu Kelautan, 10(1): 50-60.
Saptarini, D., Mukhtasor., Rumengan, I.F.M., 2016. Variasi Bentuk Pertumbuhan (lifeform) Karang di Sekitar Kegiatan Pembangkit Listrik, Studi Kasus Kawasan Perairan PLTU Paiton Jawa Timur. Prosiding Semnas Biodiversitas. 41-49.
Sarbini, R., Kuslani, H., Nugraha, Y., 2016. Teknik Pengamatan Tutupan Terumbu Karang dengan Menggunakan Transek Garis (Line Intercept Transect) di Pulau Kumbang Kepulauan Karimun Jawa. Jurnal Balitbang, 14(1): 33-42.
Subhan, B., Rahmawati, F., Arafat, D., Bayu, N.A., 2011. Kondisi Kesehatan Karang Fungiidae di Perairan Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan, 2(1): 41-50.
Suharsono., 2008. Jenis-Jenis Karang di Indonesia. LIPI, Jakarta. Hal 375.
Sukmara, A., Siahainenia, A.J., Rotinsulu, C., 2001. Panduan Pemantauan Terumbu Karang Berbasis Masyarakat dengan Metode Manta Tow. Proyek Pesisir CRMP, Jakarta. Indonesia.
Sulistiana, I.N., Hidayat, B., Wardana, I.M.K., 2012. Identifikasi Terumbu Karang Berdasarkan Citra Penginderaan Jauh Multispektral dengan Filter 2D Gabor Wavelet dan K-nearest Neighbor (Skripsi). Telkom University.
Susanti, N., 2018. Upaya Greeanpeace Menjaga Kawasan Pantai Indonesia Terkait Proyek Pulau Reklamasi Teluk Jakarta di Universitas Riau. JOM FISIP, 4(2) : 1-18.
Tabugo, S. R. M., Manzanares, D. L., Malawani, A. D., 2016. Coral Reef Assessment and Monitoring Made Easy Using Coral Point Count with Excel Extensions (CPCe) Software in Calangahan, Lugait, Misamis Oriental, Philippines. Computational Ecology and Software of Journal, 6(1): 21-30.
Veron, 2000. Coral of The World. Australian Institute of Marine Science. University of Michigan, Vol. III, 1382p.
Thamrin., Siregar, Y.I., Zulkarnaini., Delpopi, M., 2013. Kondisi Terumbu Karang Pulau Kaisak Pariaman Provinsi Sumatera Barat Pasca Gempa Bumi Padang 30 September 2009. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 18(1): 22-34.
Keywords

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Dengan mengirimkan manuskrip artikel, penulis setuju dengan kebijakan ini. Tidak diperlukan penandatanganan dokumen khusus.
1. Lisensi
Penggunaan artikel yang non-komersial akan diatur oleh lisensi Atribusi Creative Commons seperti yang saat ini ditampilkan pada Creative Commons Attribution 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
2. Jaminan Penulis
Penulis menjamin bahwa artikel tersebut asli, ditulis oleh penulis lain, belum diterbitkan sebelumnya, tidak mengandung pernyataan yang melanggar hukum, tidak melanggar hak orang lain, tunduk pada hak cipta yang dipegang secara eksklusif oleh penulis dan bebas dari setiap hak pihak ketiga, dan bahwa setiap izin tertulis yang diperlukan untuk mengutip dari sumber lain telah diperoleh oleh penulis.
3. Hak Pengguna
Jurnal Simbiosa adalah untuk menyebarluaskan artikel yang diterbitkan sebebas mungkin. Di bawah lisensi Creative Commons, Simbiosa mengizinkan pengguna untuk menyalin, mendistribusikan, menampilkan, dan melakukan pekerjaan hanya untuk tujuan non-komersial. Pengguna juga perlu mengaitkan penulis dan Jurnal Simbiosa dalam mendistribusikan karya di jurnal dan media publikasi lainnya.
4. Hak Penulis
Memegang semua hak mereka untuk karya yang diterbitkan, seperti (tetapi tidak terbatas pada) hak-hak berikut;
- Hak cipta dan hak kepemilikan lainnya yang berkaitan dengan artikel, seperti hak paten,
- Hak untuk menggunakan substansi artikel dalam karya masa depan sendiri, termasuk kuliah dan buku,
- Hak untuk mereproduksi artikel untuk keperluan sendiri,
- Hak untuk mengarsipkan diri sendiri artikel tersebut,
- Hak untuk mengadakan perjanjian kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif dari versi artikel yang diterbitkan (misalnya, mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan atas publikasi awal dalam jurnal Simbiosa ini.
5. Co-Authorship
Jika artikel tersebut disusun bersama oleh lebih dari satu penulis, setiap penulis yang menyerahkan naskah waran bahwa ia telah diberi wewenang oleh semua penulis bersama untuk menyetujui hak cipta dan pemberitahuan lisensi (perjanjian) ini atas nama mereka, dan setuju untuk memberi tahu rekan penulis dari ketentuan kebijakan ini. Jurnal Simbiosa tidak akan bertanggung jawab atas apa pun yang mungkin timbul karena perselisihan internal penulis. Jurnal Simbiosa hanya akan berkomunikasi dengan penulis yang sesuai.
6. Royalti
Menjadi jurnal yang dapat diakses secara terbuka dan menyebarkan artikel secara gratis di bawah masa lisensi Creative Commons yang disebutkan, penulis menyadari bahwa Jurnal Simbiosa tidak memberikan hak royalti kepada penulis atau biaya lainnya.
7. Lain-lain
Jurnal Simbiosa akan menerbitkan artikel (atau menerbitkannya) di jurnal jika proses editorial artikel berhasil diselesaikan. Editor Simbiosa dapat memodifikasi artikel dengan gaya tanda baca, ejaan, huruf besar, referensi, dan penggunaan yang dianggap tepat. Penulis mengakui bahwa artikel tersebut dapat dipublikasikan sehingga akan dapat diakses oleh publik dan akses tersebut akan gratis bagi pembaca seperti yang disebutkan dalam poin 3.