Kesesuaian Perairan Madong untuk Pengembangan Budidaya Rumput Laut Caulerpa sp
Abstract
Rumput laut Caulerpa sp merupakan komoditas unggulan yang memiliki potensi ekonomi cukup besar. Pengembangan budidaya rumput laut Caulerpa sp. tidak terlepas dari kondisi parameter kualitas perairan. Keberhasilan kultur rumput laut dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama terkait dengan kondisi lingkungan perairan. Tujuan penelitian ini ialah menganalisis kesesuai kualitas perairan Madong untuk kegiatan budidaya rumput laut Caulerpa sp.. Penentuan lokasi sampling dilakukan secara acak untuk mewakili lokasi dari berbagai aktivitas masyarakat yang ada. Jumlah titik sampling ditentukan sebanyak 10 lokasi. Pembobotan parameter perairan dilakukan untuk mengatahui nilai kesesuaian dalam pengembangan budidaya rumput laut Caulerpa sp. Parameter-parameter yang diukur, diberi bobot dan skor sesuai dengan nilai hasil pengukurannya. Hasil penelitian menunjukkan perairan Madong sesuai untuk pengembangan budidaya rumput laut Caulerpa sp. Nilai kesesuaian diperoleh pada kisaran 46-49 dengan persentase kesesuaian antara 80,7-85,9 %. Seluruh lokasi sampling dinyatakan tergolong pada tingkat kesesuaian yang tinggi (sesuai).References
Alamsyah, R. 2016. Kesesuaian Parameter Kualitas Air untuk Budidaya Rumput Laut di Desa Panaikang Kabupaten Sinjai. Jurnal Agrominansia, 1 (2): 61-70.
Aziz, H. Y., Karim, M. Y., Amri, K., and Hasbullah, D. 2019. Productivity of several Caulerpa species grown in fishponds. Bioflux, 11 (1): 21-24.
Bambaranda, B. V., Tsukaka, T. W., Chirapart, A., Salin, K. R., and Sasaki, N. 2019. Capacity of Caulerpa sp lentillifera in the Removal of Fish Culture Effluent in a Recirculating Aquaculture System. Processes, 7 (440): 1-15.
Chen, X., Sun, Y., Liu, H., Liu, S., Qin, Y., and Li, P. 2018. Advances in cultivation, wastewater treatment application, bioactive components of Caulerpa splentillifera and their biotechnological application. Peer,10 (7717): 1-15.
Dewanto, Y. B., Saifullah, dan Hermawan, D. 2015. Evaluation of Suitability Area for Development of Seaweed Culture (Kappaphycus alvarezii) at Lontar village, District Tirtayasa, Serang. Jurnal Perikanan dan Kelautan, 5 (2): 49-55.
Ferdiansyah, H. I., Pratikno, I., dan Suryono. 2019. Pemetaan Kesesuaian Lahan Untuk Budidaya Rumput Laut Di Perairan Pulau Poteran, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Journal of Marine Research, 8 (1): 36-40.
Gao, X., Choi, H. G., Park, S. K., Sun, Z. M., and Nam, K. W. 2019. Assessment of optimal growth conditions for cultivation of the edible Caulerpa okamurae (Caulerpales, Chlorophyta) from Korea. Journal of Applied Phycology, 31: 1855–1862.
Hui, G., S. Zhongmin. D. Delin. 2014. Effect of Salinity and Nutrients on the Growth and Chlorophyll Fluorescence of Caulerpa lentillifera. Chinese Journal of Oceanology and Limnology 33(2) : 410-418
Ismail, Melani, W. R., dan Apriadi, T. 2018. Tingkat Kesuburan Perairan di Perairan Kampung Madong, Kelurahan Kampung Bugis, Kota Tanjungpinang. Jurnal Akuatik Lestari, 2 (1): 9-13.
Jailani, A. Q., Herawati, E. Y., dan Semedi, B. 2015. Feasibility Study of Eucheuma Cottonii Seaweed Farming in Bluto Subdistrict of Sumenep Madura East Java. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 22 (2): 211-216.
Liu H, Wang F, Wang Q, Dong S, Tian X. 2016. A comparative study of the nutrient uptake and growth capacities of seaweeds Caulerpa lentillifera and Gracilaria lichenoides. Journal of Applied Phycology 28: 3083–3089.
Martins, A.P., Junior, O.N., Colepicolo, P., Yokoya, N.S. 2011. Effects of nitrate and phosphate availabilities on growth, photosynthesis and pigment and protein contents in colour strains of Hypnea musciformis (Wulfen in Jacqu.) J.V. Lamour. (Gigartinales, Rhodophyta). Rev. Bras. Farmacogn 21(2), 1-18.
Melsasail. K, Awan. A, Papilaya. P. M, Rumahlatu. D. 2018. The ecological structure of macroalgae community (seagrass) on various zones in the coastal waters of Nusalaut Island, Central Maluku District, Indonesia. Bioflux 11 (4) : 957-966.
Murillo. M. Z, and Salamanca. E. J. 2016. Effect of salinity on growth of the green alga Caulerpa sertularioides (Bryopsidales, Chlorophyta) under laboratory conditions. Hidrobiologica 26 (2) : 277-282.
Nursidi, Mauli, and Heriansah. 2017. Development of seaweed Kappaphycus alvarezii cultivation through vertical method in the water of small islands in South Sulawesi, Indonesia. Bioflux, 10 (6): 1428-1435.
Noor, N. M. 2015. Analisis Kesesuaian Perairan Ketapang, Lampung Selatan Sebagai Lahan Budidaya Rumput Laut Kappapycus alvarezii. Maspari Journal, 7 (2): 91-100.
Nur. A. I, Syam. H, Patang. 2016. Pengaruh Kualitas Air Terhadap Produksi Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii). Jurnal Pendidikan Teknologi Pertanian 2 : 27-40.
Nurfebrianti, D., Rejeki, S., dan Widowati, L. L. 2015. The Effect of Liquid Organic Fertilizer Administration with Different Immersion Duration to Seaweed (Caulerpa lentillifera) Growth. Journal of Aquaculture Management and Technology, 4 (4): 88-94.
Nurkiama, L., Muzahar, dan Idris, F. 2015. Keanekaragaman dan Pola Sebaran Makroalga di Perairan Laut Pulau Pucung Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan. Jurnal UMRAH : 1-14
Pereira, D. T., Simioni. C., Filipin, E. P., Bouvie, F., Ramlov, F., Maraschin, M., Bouzon, Z. L., and Schmidt, C. 2017. Eff ects of salinity on the physiology of the red macroalga, Acanthophora spicifera (Rhodophyta, Ceramiales). Acta Botanica Brasilica, 31 (4): 555-565.
Pulukadang, I., Keppel, R. C., dan Gerung, G. S. 2013. A study on bioecology of macroalgae, genus Caulerpa sp in northern Minahasa Waters, North Sulawesi Province. Aquatic Science & Management, 1 (1): 26-31.
Rabia, M. D. S. 2016. Cultivation of Caulerpa lentillifera Using Tray and Sowing Methods in Brackishwater Pon. Environmental Sciences, 4 (1): 23 – 29.
Radiarta, I., Wardoyo, S. E., Priyono, B., dan Praseno, O. 2003. Aplikasi Sistem Informasi Geografis untuk Penentuan Lokasi Pengembangan Budidaya Laut di Teluk Ekas, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia, 9(1): 67–71.
Runtuboi, D., Paulungan, Y. P., dan Gunaedi, D. T. 2014. Studi Kesesuaian Lahan Budidaya Rumput Laut Berdasarkan Parameter Biofisik Perairan di Yensawai Distrik Batanta Utara Kabupaten Raja Ampat. Jurnal Biologi Papua, 6 (1): 31-37.
Setiyanto, D., Efendi, I. dan Antara, K. J. 2008. Pertumbuhan Kappaphycus alvarezii var Maumare, var Sacol dan Eucheuma cottonii di Perairan Musi Buleleng. Jurnal Ilmu Kelautan, 13(3): 171-176.
Sunyer, R. V., Duarte, C. M., Jorda, G., and Halpern, S. R. 2012. Temperature Dependence of Oxygen Dynamics and Community Metabolism in a Shallow Mediterranean Macroalgal Meadow (Caulerpa prolifera). Estuaries and Coasts, 35: 1182–1192.
Tanduyan, S. N., Gonzaga, R. B., and Bensig, V. D., 2013. Off bottom culture of Caulerpa sp lentillifera in three different water levels in the marine waters of San Francisco, Cebu, Philippines. Proc 2nd APCRS. Galaxea, Journal of Coral Reff Studies, (Special Issue): 123-132.
Waluyo, Yonvitner, Riani, E., dan Arifin, T. 2016. Daya Dukung Perairan Untuk Pengembangan Budidaya Rumput Laut Eucheuma cottonii Di Kabupaten Luwu Dan Kota Palopo, Teluk Bone, Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 8 (2): 469-492.
Zuldin, W. H., Shaleh, S. R. M., and Shapawi, R. 2019. Growth, Biomass Yield, and Proximate Composition of Sea Vegetable, Caulerpa macrodisca (Bryopsidales, Chlorophyta) Cultured in Tank. Philippine Journal of Science, 148 (1): 1-6.
Keywords

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Dengan mengirimkan manuskrip artikel, penulis setuju dengan kebijakan ini. Tidak diperlukan penandatanganan dokumen khusus.
1. Lisensi
Penggunaan artikel yang non-komersial akan diatur oleh lisensi Atribusi Creative Commons seperti yang saat ini ditampilkan pada Creative Commons Attribution 4.0 International License.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
2. Jaminan Penulis
Penulis menjamin bahwa artikel tersebut asli, ditulis oleh penulis lain, belum diterbitkan sebelumnya, tidak mengandung pernyataan yang melanggar hukum, tidak melanggar hak orang lain, tunduk pada hak cipta yang dipegang secara eksklusif oleh penulis dan bebas dari setiap hak pihak ketiga, dan bahwa setiap izin tertulis yang diperlukan untuk mengutip dari sumber lain telah diperoleh oleh penulis.
3. Hak Pengguna
Jurnal Simbiosa adalah untuk menyebarluaskan artikel yang diterbitkan sebebas mungkin. Di bawah lisensi Creative Commons, Simbiosa mengizinkan pengguna untuk menyalin, mendistribusikan, menampilkan, dan melakukan pekerjaan hanya untuk tujuan non-komersial. Pengguna juga perlu mengaitkan penulis dan Jurnal Simbiosa dalam mendistribusikan karya di jurnal dan media publikasi lainnya.
4. Hak Penulis
Memegang semua hak mereka untuk karya yang diterbitkan, seperti (tetapi tidak terbatas pada) hak-hak berikut;
- Hak cipta dan hak kepemilikan lainnya yang berkaitan dengan artikel, seperti hak paten,
- Hak untuk menggunakan substansi artikel dalam karya masa depan sendiri, termasuk kuliah dan buku,
- Hak untuk mereproduksi artikel untuk keperluan sendiri,
- Hak untuk mengarsipkan diri sendiri artikel tersebut,
- Hak untuk mengadakan perjanjian kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif dari versi artikel yang diterbitkan (misalnya, mempostingnya ke repositori institusional atau menerbitkannya dalam sebuah buku), dengan pengakuan atas publikasi awal dalam jurnal Simbiosa ini.
5. Co-Authorship
Jika artikel tersebut disusun bersama oleh lebih dari satu penulis, setiap penulis yang menyerahkan naskah waran bahwa ia telah diberi wewenang oleh semua penulis bersama untuk menyetujui hak cipta dan pemberitahuan lisensi (perjanjian) ini atas nama mereka, dan setuju untuk memberi tahu rekan penulis dari ketentuan kebijakan ini. Jurnal Simbiosa tidak akan bertanggung jawab atas apa pun yang mungkin timbul karena perselisihan internal penulis. Jurnal Simbiosa hanya akan berkomunikasi dengan penulis yang sesuai.
6. Royalti
Menjadi jurnal yang dapat diakses secara terbuka dan menyebarkan artikel secara gratis di bawah masa lisensi Creative Commons yang disebutkan, penulis menyadari bahwa Jurnal Simbiosa tidak memberikan hak royalti kepada penulis atau biaya lainnya.
7. Lain-lain
Jurnal Simbiosa akan menerbitkan artikel (atau menerbitkannya) di jurnal jika proses editorial artikel berhasil diselesaikan. Editor Simbiosa dapat memodifikasi artikel dengan gaya tanda baca, ejaan, huruf besar, referensi, dan penggunaan yang dianggap tepat. Penulis mengakui bahwa artikel tersebut dapat dipublikasikan sehingga akan dapat diakses oleh publik dan akses tersebut akan gratis bagi pembaca seperti yang disebutkan dalam poin 3.